{
"Id": 10000067,
"PromoteId": 67,
"Sort": 51,
"Body": 2,
"Icon": "UI_AvatarIcon_Collei",
"SideIcon": "UI_AvatarIcon_Side_Collei",
"Name": "Collei",
"Description": "Seorang Penjaga Hutan Pemula yang aktif di Hutan Avidya. Tutur kata dan perbuatannya sangat lembut, namun kepribadiannya sedikit tertutup.",
"BeginTime": "2022-08-24T00:00:00+08:00",
"Quality": 4,
"Weapon": 12,
"BaseValue": {
"HpBase": 820.6119,
"AttackBase": 16.73952,
"DefenseBase": 50.358
},
"GrowCurves": [
{
"Type": 1,
"Value": 22
},
{
"Type": 4,
"Value": 32
},
{
"Type": 7,
"Value": 22
}
],
"SkillDepot": {
"Arkhe": 0,
"Skills": [
{
"GroupId": 6731,
"Proud": {
"Descriptions": [
"DMG Tahap 1|{param1:F1P}",
"DMG Tahap 2|{param2:F1P}",
"DMG Tahap 3|{param3:F1P}",
"DMG Tahap 4|{param4:F1P}",
"DMG Membidik|{param5:F1P}",
"DMG Membidik Penuh|{param6:P}",
"DMG Selama Plunging|{param7:F1P}",
"DMG Plunging Attack Rendah/Tinggi|{param8:P}/{param9:P}"
],
"Parameters": [
{
"Id": 673101,
"Level": 1,
"Parameters": [
0.43602,
0.42656,
0.54094,
0.68026,
0.4386,
1.24,
0.568288,
1.136335,
1.419344
]
},
{
"Id": 673102,
"Level": 2,
"Parameters": [
0.47151,
0.46128,
0.58497,
0.73563,
0.4743,
1.333,
0.614544,
1.228828,
1.534872
]
},
{
"Id": 673103,
"Level": 3,
"Parameters": [
0.507,
0.496,
0.629,
0.791,
0.51,
1.426,
0.6608,
1.32132,
1.6504
]
},
{
"Id": 673104,
"Level": 4,
"Parameters": [
0.5577,
0.5456,
0.6919,
0.8701,
0.561,
1.55,
0.72688,
1.453452,
1.81544
]
},
{
"Id": 673105,
"Level": 5,
"Parameters": [
0.59319,
0.58032,
0.73593,
0.92547,
0.5967,
1.643,
0.773136,
1.545944,
1.930968
]
},
{
"Id": 673106,
"Level": 6,
"Parameters": [
0.63375,
0.62,
0.78625,
0.98875,
0.6375,
1.736,
0.826,
1.65165,
2.063
]
},
{
"Id": 673107,
"Level": 7,
"Parameters": [
0.68952,
0.67456,
0.85544,
1.07576,
0.6936,
1.86,
0.898688,
1.796995,
2.244544
]
},
{
"Id": 673108,
"Level": 8,
"Parameters": [
0.74529,
0.72912,
0.92463,
1.16277,
0.7497,
1.984,
0.971376,
1.94234,
2.426088
]
},
{
"Id": 673109,
"Level": 9,
"Parameters": [
0.80106,
0.78368,
0.99382,
1.24978,
0.8058,
2.108,
1.044064,
2.087686,
2.607632
]
},
{
"Id": 673110,
"Level": 10,
"Parameters": [
0.8619,
0.8432,
1.0693,
1.3447,
0.867,
2.232,
1.12336,
2.246244,
2.80568
]
},
{
"Id": 673111,
"Level": 11,
"Parameters": [
0.92274,
0.90272,
1.14478,
1.43962,
0.9282,
2.356,
1.202656,
2.404802,
3.003728
]
},
{
"Id": 673112,
"Level": 12,
"Parameters": [
0.98358,
0.96224,
1.22026,
1.53454,
0.9894,
2.48,
1.281952,
2.563361,
3.201776
]
},
{
"Id": 673113,
"Level": 13,
"Parameters": [
1.04442,
1.02176,
1.29574,
1.62946,
1.0506,
2.635,
1.361248,
2.721919,
3.399824
]
},
{
"Id": 673114,
"Level": 14,
"Parameters": [
1.10526,
1.08128,
1.37122,
1.72438,
1.1118,
2.79,
1.440544,
2.880478,
3.597872
]
},
{
"Id": 673115,
"Level": 15,
"Parameters": [
1.1661,
1.1408,
1.4467,
1.8193,
1.173,
2.945,
1.51984,
3.039036,
3.79592
]
}
]
},
"Id": 10671,
"Name": "Supplicant's Bowmanship",
"Description": "Normal Attack\nMelancarkan hingga 4 serangan berturut-turut menggunakan busur.\n\nCharged Attack\nMengerahkan sebuah Serangan Membidik yang lebih akurat untuk mengakibatkan DMG lebih besar.\nSaat membidik, elemen Dendro akan berkumpul di ujung anak panah. Panah dengan elemen Dendro yang terkumpul penuh akan mengakibatkan Dendro DMG.\n\nPlunging Attack\nMelancarkan hujan panah dari udara dan menerjang tanah dengan kecepatan tinggi, mengakibatkan DMG area saat mendarat.",
"Icon": "Skill_A_02"
},
{
"GroupId": 6732,
"Proud": {
"Descriptions": [
"DMG Skill|{param1:F1P}",
"Cooldown|{param2:F1} dtk"
],
"Parameters": [
{
"Id": 673201,
"Level": 1,
"Parameters": [
1.512,
12
]
},
{
"Id": 673202,
"Level": 2,
"Parameters": [
1.6254,
12
]
},
{
"Id": 673203,
"Level": 3,
"Parameters": [
1.7388,
12
]
},
{
"Id": 673204,
"Level": 4,
"Parameters": [
1.89,
12
]
},
{
"Id": 673205,
"Level": 5,
"Parameters": [
2.0034,
12
]
},
{
"Id": 673206,
"Level": 6,
"Parameters": [
2.1168,
12
]
},
{
"Id": 673207,
"Level": 7,
"Parameters": [
2.268,
12
]
},
{
"Id": 673208,
"Level": 8,
"Parameters": [
2.4192,
12
]
},
{
"Id": 673209,
"Level": 9,
"Parameters": [
2.5704,
12
]
},
{
"Id": 673210,
"Level": 10,
"Parameters": [
2.7216,
12
]
},
{
"Id": 673211,
"Level": 11,
"Parameters": [
2.8728,
12
]
},
{
"Id": 673212,
"Level": 12,
"Parameters": [
3.024,
12
]
},
{
"Id": 673213,
"Level": 13,
"Parameters": [
3.213,
12
]
},
{
"Id": 673214,
"Level": 14,
"Parameters": [
3.402,
12
]
},
{
"Id": 673215,
"Level": 15,
"Parameters": [
3.591,
12
]
}
]
},
"Id": 10672,
"Name": "Floral Brush",
"Description": "Melemparkan Floral Ring yang mengakibatkan 1 kali Dendro DMG pada target yang terkena.\nFloral Ring akan kembali setelah dilemparkan dalam kurun waktu tertentu, dan akan mengakibatkan Dendro DMG lagi.\n\nIni adalah peralatan yang digunakan Collei untuk menghadapi hewan-hewan yang buas. Setelah hewan-hewan itu dipukul dengan alat ini beberapa kali, biasanya mereka akan kembali menjadi jinak. Prinsip ini juga bisa diterapkan terhadap para orang-orang jahat.",
"Icon": "Skill_S_Collei_01"
}
],
"EnergySkill": {
"GroupId": 6739,
"Proud": {
"Descriptions": [
"DMG Elemental Burst|{param1:F1P}",
"DMG Pantulan|{param2:F1P}",
"Durasi|{param3:F1} dtk",
"Cooldown|{param4:F1} dtk",
"Konsumsi Energy|{param5:I}"
],
"Parameters": [
{
"Id": 673901,
"Level": 1,
"Parameters": [
2.01824,
0.43248,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673902,
"Level": 2,
"Parameters": [
2.169608,
0.464916,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673903,
"Level": 3,
"Parameters": [
2.320976,
0.497352,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673904,
"Level": 4,
"Parameters": [
2.5228,
0.5406,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673905,
"Level": 5,
"Parameters": [
2.674168,
0.573036,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673906,
"Level": 6,
"Parameters": [
2.825536,
0.605472,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673907,
"Level": 7,
"Parameters": [
3.02736,
0.64872,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673908,
"Level": 8,
"Parameters": [
3.229184,
0.691968,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673909,
"Level": 9,
"Parameters": [
3.431008,
0.735216,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673910,
"Level": 10,
"Parameters": [
3.632832,
0.778464,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673911,
"Level": 11,
"Parameters": [
3.834656,
0.821712,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673912,
"Level": 12,
"Parameters": [
4.03648,
0.86496,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673913,
"Level": 13,
"Parameters": [
4.28876,
0.91902,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673914,
"Level": 14,
"Parameters": [
4.54104,
0.97308,
6,
15,
60
]
},
{
"Id": 673915,
"Level": 15,
"Parameters": [
4.79332,
1.02714,
6,
15,
60
]
}
]
},
"Id": 10675,
"Name": "Trump-Card Kitty",
"Description": "Mengundang Cuilein-Anbar yang bisa diandalkan untuk membantu di medan pertempuran.\nMelemparkan boneka Cuilein-Anbar yang saat meledak akan mengakibatkan Dendro DMG Area dan akan menghasilkan Zona Cuilein-Anbar. Cuilein-Anbar akan terus memantul-mantul di dalam areanya dan mengakibatkan Dendro DMG Area.\n\n\"Bagaimana? Hebat, kan! ... Apa? Dari mana asal nama Cuilein-Anbar? Anu, ini ... eh ....\"",
"Icon": "Skill_E_Collei_01"
},
"Inherents": [
{
"GroupId": 6721,
"Proud": {
"Descriptions": [],
"Parameters": [
{
"Id": 672101,
"Level": 1,
"Parameters": [
1.5,
0.4,
3
]
}
]
},
"Id": 672101,
"Name": "Floral Sidewinder",
"Description": "Sebelum Floral Ring kembali, jika ada Karakter di dalam party yang memicu reaksi Burning, Quicken, Aggravate, Spread, Bloom, Hyperbloom, Lunar-Bloom, atau Burgeon, maka Karakter akan mendapatkan efek Sprout saat Floral Ring kembali. Efek ini akan mengakibatkan Dendro DMG sebesar 40% dari ATK Collei secara terus-menerus kepada musuh di sekitar selama 3 detik.\nJika efek Sprout terpicu lagi selama durasinya masih berlangsung, maka efek yang awal akan dihapus. DMG yang diakibatkan oleh efek Sprout dianggap sebagai DMG Elemental Skill.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_05"
},
{
"GroupId": 6722,
"Proud": {
"Descriptions": [],
"Parameters": [
{
"Id": 672201,
"Level": 1,
"Parameters": [
1,
3
]
}
]
},
"Id": 672201,
"Name": "The Languid Wood",
"Description": "Saat Karakter yang berada di dalam Zona Cuilein-Anbar memicu efek Burning, Quicken, Aggravate, Spread, Bloom, Hyperbloom, Lunar-Bloom, atau Burgeon, maka durasi area akan diperpanjang 1 detik.\nDalam 1 kali Trump-Card Kitty, perpanjangan durasi yang bisa didapatkan dengan cara ini maksimum sebanyak 3 kali.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_06"
},
{
"GroupId": 6723,
"Proud": {
"Descriptions": [],
"Parameters": [
{
"Id": 672301,
"Level": 1,
"Parameters": []
}
]
},
"Id": 672301,
"Name": "Gliding Champion of Sumeru",
"Description": "Mengurangi 20% konsumsi Stamina Karakter party sendiri saat meluncur.\nEfek ini tidak dapat ditumpuk dengan Talenta Pasif lain dengan efek yang sama persis.",
"Icon": "UI_Talent_Explosion_Glide"
}
],
"Talents": [
{
"Id": 671,
"Name": "Deepwood Patrol",
"Description": "Ketika Collei ada dalam party namun sedang tidak berada di medan pertempuran, Energy Recharge Collei meningkat 20%.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_01"
},
{
"Id": 672,
"Name": "Through Hill and Copse",
"Description": "Talenta Ascension \"Floral Sidewinder\" akan berubah menjadi:\nSaat Floral Ring kembali, Talenta Ascension \"Floral Sidewinder\" akan memberikan status \"Sprout\" untuk Karakter, yang akan mengakibatkan Dendro DMG sebesar 40% dari ATK Collei secara terus-menerus kepada musuh di sekitar selama 3 detik.\nSejak melancarkan Floral Brush dan sebelum status Sprout kali ini hilang, jika ada Karakter di dalam party yang memicu reaksi Burning, Quicken, Aggravate, Spread, Bloom, Hyperbloom, Lunar-Bloom, atau Burgeon, maka durasi efek Sprout kali ini diperpanjang 3 detik.\nPerpanjangan durasi efek Sprout yang bisa didapatkan dengan cara ini adalah 1 kali. Jika efek Sprout terpicu lagi selama durasinya berlangsung, maka efek yang awal akan dihapus. DMG yang diakibatkan oleh efek Sprout dianggap sebagai DMG Elemental Skill.\nHarus membuka Talenta Ascension Floral Sidewinder terlebih dahulu.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_02"
},
{
"Id": 673,
"Name": "Scent of Summer",
"Description": "Meningkatkan 3 level Floral Brush.\nMaksimum: Lv. 15.",
"Icon": "UI_Talent_U_Collei_02",
"ExtraLevel": {
"Index": 2,
"Level": 3
}
},
{
"Id": 674,
"Name": "Gift of the Woods",
"Description": "Saat melancarkan Trump-Card Kitty, akan meningkatkan 60 poin Elemental Mastery seluruh anggota party di sekitar (tidak termasuk Collei) selama 12 detik.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_03"
},
{
"Id": 675,
"Name": "All Embers",
"Description": "Meningkatkan 3 level Trump-Card Kitty.\nMaksimum: Lv. 15.",
"Icon": "UI_Talent_U_Collei_01",
"ExtraLevel": {
"Index": 9,
"Level": 3
}
},
{
"Id": 676,
"Name": "Forest of Falling Arrows",
"Description": "Saat Floral Ring mengenai target, akan menghasilkan 1 miniatur Cuilein-Anbar dan mengakibatkan Dendro DMG sebesar 200% dari ATK Collei.\nHanya 1 miniatur Cuilein-Anbar yang bisa dihasilkan setiap kali melancarkan Floral Brush.",
"Icon": "UI_Talent_S_Collei_04"
}
]
},
"FetterInfo": {
"Title": "Sprout of Rebirth",
"Detail": "Seorang Penjaga Hutan Pemula yang aktif di Hutan Avidya. Tutur kata dan perbuatannya sangat lembut, namun kepribadiannya sedikit tertutup.",
"Association": 7,
"Native": "Gandharva Ville",
"BirthMonth": 5,
"BirthDay": 8,
"VisionBefore": "Dendro",
"VisionOverrideUnlocked": "Vision",
"ConstellationBefore": "Leptailurus Cervarius",
"CvChinese": "秦文静",
"CvJapanese": "前川凉子",
"CvEnglish": "Christina Costello",
"CvKorean": "Bang Siu",
"CookBonus": {
"OriginItemId": 108407,
"ItemId": 108437,
"InputList": [
100061,
110001,
100079,
100078
]
},
"Fetters": [
{
"Title": "Halo",
"Context": "Penjaga Hutan Pemula, Collei, melapor! Aku akan menjamin keselamatan jalan melalui hutan ini. Huff ... sepertinya aku sudah biasa mengatakan kalimat itu — A-Aku ... tidak salah ucap, kan?"
},
{
"Title": "Berbincang: Peta Jalur Patroli Hutan",
"Context": "Berdasarkan rute map patroli hutan hari ini ... kita harus menuju ke sini dulu, lalu pergi ke sana ... Hmm ... banyak sekali yang harus ditulis ...."
},
{
"Title": "Berbincang: Kondisi",
"Context": "Fyuh, aku merasa hari ini fit sekali. Aku akan ambil kesempatan ini untuk selesaikan lebih banyak hal daripada biasanya."
},
{
"Title": "Berbincang: Ingatan",
"Context": "Saat aku lagi tidak banyak kerjaan, pikiranku mulai kepikiran ke mana-mana, dan — Wah, segera setelah aku mulai membicarakannya, aku jadi terbayang masa lalu ...."
},
{
"Title": "Setelah Hujan",
"Context": "Walaupun hujan sudah berhenti, kamu masih harus hati-hati dengan genangan airnya. Sama seperti masa lalu yang tetap tinggal di dalam kenangan, lama setelahnya ... Ah, ehem maaf!"
},
{
"Title": "Ketika Petir Menyambar",
"Context": "Saat kamu mendengar guntur, lebih baik kamu menjauh dari pohon-pohon yang tinggi. Para Penjaga Hutan juga harus waspada dengan tanda-tanda kebakaran hutan."
},
{
"Title": "Ketika Matahari Bersinar",
"Context": "Cuacanya tidak buruk. Ayo kita berjemur sebentar, bagus loh buat kesehatan."
},
{
"Title": "Ketika Angin Berembus",
"Context": "Ahh, anginnya sempurna. Tidak terlalu kecil tapi juga tidak terlalu kencang ... Hehe, kurasa Amber pasti gatal deh ingin mengetes cuaca yang begini."
},
{
"Title": "Selamat Pagi",
"Context": "Pagi! *hoam* Maaf, aku semalam begadang lagi untuk belajar ...."
},
{
"Title": "Selamat Siang",
"Context": "Hal yang normal untuk keluar sampai tengah hari di rute patroli yang lebih panjang. Aku membawa beberapa Pita Pocket lebih — Kamu mau?"
},
{
"Title": "Selamat Malam",
"Context": "Sudah mulai gelap di luar. Kamu harus sangat berhati-hati kalau melintasi hutan pada jam-jam segini."
},
{
"Title": "Selamat Tidur",
"Context": "Apa kamu sudah siap untuk tidur? Oke deh. Api unggunnya sudah menyala, aku akan berjaga malam ini."
},
{
"Title": "Tentang Collei Sendiri: Patroli Hutan",
"Context": "Aku mengembara di hutan belantara cukup lama sebelum tiba di Sumeru, dan aku sudah makan segala macam di luar sana — segalanya yang bisa dimakan atau pun yang tidak. Karena aku sudah familier dengan hutan belantara, pekerjaan sebagai Penjaga Hutan sepertinya cocok untukku. Kalau mereka punya kelas kursus untuk Bertahan Hidup di Hutan Belantara, aku cukup yakin aku pasti bisa lulus ... Yah, selama tidak ada tes tertulisnya sih."
},
{
"Title": "Tentang Collei Sendiri: Berlatih",
"Context": "Hmm? Kamu mau tahu apa yang kupelajari setiap hari? I-Iya, guru adalah orang yang sangat pintar dan brilian, tapi dia tidak mengajariku hal yang terlalu sulit sekarang ini. Jadi cuma ... hmm, seperti \"Literasi Dasar Teyvat\" ...."
},
{
"Title": "Tentang Kita: Pengetahuan Lama",
"Context": "Amber pernah menyebutmu sebelumnya dalam suratnya. Aku tidak percaya bahwa begitu banyak yang terjadi di Mondstadt sejak terakhir kali aku di sana. Sayang sekali aku melewatkan banyak hal ... Oh, tapi karena sekarang kamu ada di sini, bisakah kamu menceritakan keseluruhan ceritanya?"
},
{
"Title": "Tentang Kita: Teman Baru",
"Context": "Kupikir aku tidak akan pernah bisa berteman dengan seorang pun seumur hidupku. Tapi semua berubah saat aku pergi ke Mondstadt ... Lalu setelah itu, aku bertemu guru di Sumeru. Dan sekarang aku juga bertemu kamu. Sepertinya aku benar-benar beruntung."
},
{
"Title": "Tentang Vision",
"Context": "Heh ... Tak kusangka akan datang hari di mana aku mendapatkan Vision-ku sendiri. Dulu, aku merasa para dewa cuma peduli pada orang-orang yang populer ... Yah aku memang punya banyak prasangka buruk seperti itu, jadi ... yah itu sifat burukku sih. Maaf ya."
},
{
"Title": "Berbagi Cerita: Nama-Nama Kemampuan",
"Context": "Guru selalu mengingatkanku bahwa latihan itu menghasilkan kesempurnaan, jadi aku terkadang baca novel ringan untuk meningkatkan kemampuan membacaku ... Karena setidaknya itu masih lebih mudah dibandingkan membaca essay tulisan Guru sih. Tapi akhir-akhir ini, aku sedang membaca sebuah buku di mana karakter utamanya punya banyak kemampuan, dan setiap kemampuannya punya namanya sendiri, dan aku tidak paham satu kata pun ... Hmm? Judulnya? Kayaknya sih ... hmm ... \"Onibudou\"? Kamu pernah baca?"
},
{
"Title": "Berbagi Cerita: Kekuatan Sebuah Segel",
"Context": "Ugh ... kalimatnya begini-begini lagi: \"kekuatan yang tersegel dalam diriku terus berkembang\" ... dan \"sebaiknya kamu menjauh dariku\" ... Kenapa orang-orang di Inazuma terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat semacam ini setiap saat? Apa mereka tidak malu kalau suatu saat nanti mereka teringat pernah mengucapkan kalimat begitu? Aaah ... menggelikan sekali. Aku tidak sanggup baca lebih dari ini!"
},
{
"Title": "Kisah Menarik",
"Context": "Yah, ada tumbuhan dan hewan, ada yang bisa dimakan ada yang tidak bisa dimakan, tapi intinya jenisnya memang banyak sekali. Sssh, jangan bilang pada Guru kalau aku bilang begitu ya. Walaupun ... secara pribadi, kurasa aku cukup suka dengan pohon yang ada lubangnya? Terutama saat aku sedang ingin meringkuk seperti bola dan sembunyi. Semua orang pasti punya momen-momen seperti itu, kan? Tidak?"
},
{
"Title": "Tentang Tighnari",
"Context": "Walaupun guru sangat tegas dan selalu mengkritik para petualang karena memakan jamur beracun sembarangan, dia sebenarnya orang yang baik. Dia sangat sabar waktu membimbingku, dan dia bahkan membacakan surat dari Mondstadt untukku. Aku sangat berterima kasih padanya."
},
{
"Title": "Tentang Dori",
"Context": "Aku pernah bertemu dengannya waktu melaksanakan tugas patroli. Dia mengeluarkan sebotol jus buah dari tasnya dan terlihat enak, seolah dia tahu aku sedang haus ... Untungnya, Guru ada di sana, dia lalu menghentikanku untuk menghabiskan Mora yang kudapat dengan susah payah saat aku mulai lengah ...."
},
{
"Title": "Tentang Lesser Lord Kusanali",
"Context": "Archon Dendro ... Saat aku kecil, beberapa kali aku ingin teriak kepada para dewa dan bertanya kenapa, kenapa aku harus mengalami banyak penderitaan ... *huff* Tapi sejauh yang aku tahu, mungkin para dewa juga merasa tak berdaya tentang semua yang kulakukan pada kala itu."
},
{
"Title": "Tentang Cyno",
"Context": "Um ... Kalau boleh sih lebih baik aku tidak bicara soal dia deh, oke? Oh, tidak — Mahamatra Agung bukan orang jahat atau semacamnya. Malahan, aku berterima kasih padanya karena sudah membawaku kembali dari Mondstadt ke Sumeru dan menemukan tempat untuk aku tinggal. Hanya saja ... kapan pun aku ingat soal proses kepulanganku waktu mau meninggalkan Mondstadt ... ooh ... rasanya tengkuk di leherku jadi sakit lagi ...."
},
{
"Title": "Tentang Kaveh",
"Context": "Mahamatra Agung pernah membawanya ke tempat kami untuk makan. Saat buah-buahan tiba di meja, dia terus-terusan ngoceh soal rekan sekamarnya. Kami bahkan tidak sempat ngomong apa-apa, kami cuma mengangguk saja dan berusaha menahan tawa. Duh benar-benar tidak mudah loh melakukan itu."
},
{
"Title": "Tentang Nilou",
"Context": "Dia agak sedikit linglung. Kalau dia datang untuk tampil di sekitar Desa Gandharva, aku khawatir dia akan berjalan-jalan ke hutan terus nyasar ... Jadi aku harus mengawasinya, sebagai seorang Penjaga Hutan Pemula, sudah seharusnya aku melakukan itu."
},
{
"Title": "Tentang Amber",
"Context": "Amber hebat sekali. Dia ramah dan memiliki banyak antusiasme, ditambah dia sangat berani dan selalu melakukan hal yang benar ... Dia adalah orang yang paling aku kagumi! Dia seperti api yang nyaman yang membuat semua orang di sekitarnya merasa hangat. Tanpa dirinya, aku tidak mungkin ada di sini sekarang ... Waktu begitu cepat berlalu — aku yakin sekarang dia pasti sudah tambah keren dan percaya diri daripada sebelumnya! Mungkin tidak ya suatu hari aku juga bisa sekeren dia."
},
{
"Title": "Tentang Kaeya",
"Context": "Bagaimana kabar orang-orang di Mondstadt, apa mereka semua baik-baik saja? Aku selalu menyebabkan banyak masalah waktu dulu, terkadang aku berpikir apa aku harus kembali ke sana untuk minta maaf ya ... Hmm, tapi bagaimana kalau aku ketemu sama Kapten Kavaleri lalu dia menggodaku? Yah, sudahlah tidak usah terburu-buru, mungkin aku tunggu lebih lama lagi saja deh."
},
{
"Title": "Tentang Lisa",
"Context": "Setelah selama ini, Lisa masih memanggilku \"Nak Collei\" saat dia menulis surat untukku. Rasanya menurutku ... hmm? Dia memanggilmu \"si manis\"? Hahaha ... Maaf, aku tidak bermaksud menertawaimu, mmm ... tapi harus kukatakan bahwa itu membuatku merasa jauh lebih baik."
},
{
"Title": "Tentang Fischl",
"Context": "\"Prinzessin der Verurteilung\"? ... Mmm, tidak, maaf, aku di Mondstadt tidak begitu lama, jadi aku tidak pernah dengar dia. Tapi nama itu ... Ugh, ehem, tidak apa-apa."
},
{
"Title": "Tentang Faruzan",
"Context": "Ah, sejujurnya ... Aku tidak tahu gimana cara berhadapan dengan orang seperti Bu Faruzan. Dia bilang aku murid yang pekerja keras dan rajin belajar, tapi itu kan memang sudah semestinya! Aku orangnya lemot, jadi kalau belajar harus ekstra rajin supaya jadi bisa. Terus aku pernah tidak sengaja lihat jurnal penelitiannya tempo hari, cuma keintip saja sih. Semuanya ditulis pakai aksara kuno, tidak bisa dibaca sama sekali, bahkan setengahnya saja tidak bisa ... Asli, itu buku paling seram di seantero Teyvat!"
},
{
"Title": "Mengenal Collei: I",
"Context": "Kamu mau tahu lebih banyak tentangku? Kalau maksudmu sebelum aku datang ke Sumeru, mmm ... Mu-Mungkin kamu bisa tulis surat ke Amber dan tanya dia? Tunggu tunggu tunggu, tidak, jangan deh. Kalau Kaeya tahu, bakal jadi bencana nanti. Maksudku — pasti dia bakal tahu! O-Oke, biar aku sendiri saja yang langsung bilag padamu. Fyuh ... Maaf! Tolong beri aku waktu beberapa hari untuk menyiapkan diri ...."
},
{
"Title": "Mengenal Collei: II",
"Context": "Waktu aku tiba di Mondstadt, aku bicara banyak hal yang tak seharusnya kukatakan pada Amber dan lainnya. Aku masih merasa malu kapan pun aku mengingatnya ... Bagaimana bisa aku bicara begitu pada mereka yang hanya mencoba untuk membantuku? Aku jadi merinding kalau ingat diriku pada masa itu ... Uhh, maaf, mungkin kita berhenti sampai sini saja hari ini? Kalau aku bicara lebih banyak lagi, mungkin besok aku bakal menyesal."
},
{
"Title": "Mengenal Collei: III",
"Context": "Aku pernah dibawa kepada seseorang yang dipanggil \"The Doctor\" untuk pengobatan Eleazar-ku ... yah, sebenarnya kata \"pengobatan\" itu salah sih — lebih tepatnya ... eksperimen. Setelah sekian lama ada di tempat itu, aku jadi berpikir, apa yang sudah kulakukan sampai harus mengalami nasib seperti itu? Kenapa tidak ada yang datang untuk menyelamatkanku? Sedikit demi sedikit, aku tidak hanya benci pada Fatui tapi juga pada semua orang di dunia ini. Kalau sekarang kupikir lagi ... aku kekanak-kanakan sekali ya."
},
{
"Title": "Mengenal Collei: IV",
"Context": "Untung ada kalian, jadi Eleazar-ku bisa hilang tanpa bekas. Ini keajaiban yang tidak pernah berani kuharapkan. Aku tidak pernah mengharapkan kesembuhan, aku cuma berharap sebelum tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali, aku akan coba dan berusaha untuk melakukan sebanyak-banyaknya. Pertama, aku fokus untuk balas dendam, terus menyusuri hutan ... Sekarang, akhirnya aku bisa hidup bebas."
},
{
"Title": "Mengenal Collei: V",
"Context": "Apa kamu mau melanjutkan perjalananmu? Izinkan aku melakukan bagianku, ya? Aku akan belajar sungguh-sungguh ... baik membaca, mempelajari obat-obatan, latihan bertempur, ataupun memprediksi bahaya ... bahkan sampai hal yang sepele, misalnya memeriksa lampu jalanan! Kuharap akan ada lebih banyak orang yang akan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan sepanjang perjalananmu ... sama seperti kamu sudah menyelamatkanku."
},
{
"Title": "Hobi Collei",
"Context": "Hobiku? Menjahit, berlatih meluncur, dan membantu orang! Hmm? Familier? Yah, itu karena ... aku juga mau jadi seseorang yang memberikan kehangatan pada orang lain."
},
{
"Title": "Kekhawatiran Collei",
"Context": "\"Menanggapi ho — homogenisasi spesies tanaman ... mengambil langkah-langkah impor... menghindari konsumsi jangka panjang makanan jamur ....\" Apa maksud dari semua ini ... Mereka secara harfiah mengatakan, \"Aku tidak mau makan jamur,\" tetapi karena dari Akademiya, makanya jadi terdengar rumit!\""
},
{
"Title": "Makanan Favorit",
"Context": "Pita Pocket itu praktis untuk dibawa dalam perjalanan dan bisa mengenyangkan, jadi itu mungkin adalah makanan yang paling sering aku makan. Tapi jika kita bicara tentang lebih dari sekadar \"mengenyangkan\", makanan favoritku adalah ... mmm, sepertinya Fried Radish Ball."
},
{
"Title": "Makanan yang Tidak Disukai",
"Context": "Selama hari-hariku sebagai pengembara, ada saat-saat ketika aku harus membuka Wolfhook dan memaksakan diri untuk memakannya kalau aku tidak ingin kelaparan, jadi tidak ada makanan yang benar-benar aku benci. Jika aku harus memilih satu hal yang tidak akan aku sentuh, itu adalah jamur jenis apa pun juga. Tidak ada hubungannya dengan rasanya — aku cuma tidak ingin menjadi salah satu orang yang menerima ceramah keras dari Guru ...."
},
{
"Title": "Menerima Hadiah: I",
"Context": "Mmmm ... enak! Kamu bisa ajari aku tidak?"
},
{
"Title": "Menerima Hadiah: II",
"Context": "Dengan kemampuan seperti ini, kurasa kamu tidak akan pernah kelaparan saat berada di alam liar, ya kan?"
},
{
"Title": "Menerima Hadiah: III",
"Context": "Maaf, Guru bilang aku harusnya jangan makan apa pun yang terlihat mencurigakan."
},
{
"Title": "Ulang Tahun",
"Context": "Uh, Se-Selamat Ulang Tahun! Ini kue yang kubuat untukmu, dan ini lilinnya, jadi yah ... Amber bilang dalam suratnya kalau ini harusnya berhasil ... Oh! Dan juga, ini hadiah untukmu!\nMaaf, aku tidak punya pengalaman dalam mengatur pesta ulang tahun. Aku tidak tahu kamu bakal suka atau tidak ... Aah, aku jadi malu. Kalau ada hal yang tidak kamu suka, bilang saja, kupastikan kalau aku akan membuat pesta ulang tahun yang lebih bagus lagi buatmu tahun depan!"
},
{
"Title": "Perasaan Tentang Ascension: Permulaan",
"Context": "Apa ini artinya aku membuat kemajuan?"
},
{
"Title": "Perasaan Tentang Ascension: Persiapan",
"Context": "Aku mulai merasa seperti ... Akhirnya aku bisa menjadi orang yang lebih baik daripada yang sebelumnya."
},
{
"Title": "Perasaan Tentang Ascension: Klimaks",
"Context": "Aku tidak perlu bergantung pada kekuatan mereka lagi ... walaupun dalam situasi tentang hidup dan mati sekalipun."
},
{
"Title": "Perasaan Tentang Ascension: Konklusi",
"Context": "Sepertinya sudah tidak masalah lagi kalaupun aku harus membuka segel dari kekuatan itu sekarang — aku sudah sampai sejauh ini, sepertinya aku bisa mengontrolnya, ya kan? Yah, hanya ada satu cara supaya kita tahu kebenarannya! Hah! ... Aku bercanda kok. Kekuatan superku yang asli itu adalah pengalaman bertualang yang kudapat denganmu."
},
{
"Title": "Elemental Skill: I",
"Context": "Pergilah."
},
{
"Title": "Elemental Skill: II",
"Context": "Terbanglah."
},
{
"Title": "Elemental Skill: III",
"Context": "Hai!"
},
{
"Title": "Elemental Burst: I",
"Context": "Cuilein-Anbar, tolong!"
},
{
"Title": "Elemental Burst: II",
"Context": "Co-Coba ukuran yang ini!"
},
{
"Title": "Elemental Burst: III",
"Context": "Seperti latihan kita sebelumnya!"
},
{
"Title": "Membuka Peti Harta: I",
"Context": "Sangat penting untuk mengisi kembali pasokanmu sesering mungkin saat kamu berada di alam liar."
},
{
"Title": "Membuka Peti Harta: II",
"Context": "Wow, beruntung sekali."
},
{
"Title": "Membuka Peti Harta: III",
"Context": "Hmm... di dalamnya tidak akan ada jamur beracun, kan?"
},
{
"Title": "HP Rendah: I",
"Context": "A-Aku masih bisa terus maju!"
},
{
"Title": "HP Rendah: II",
"Context": "Aku sudah mengalami yang lebih parah daripada ini!"
},
{
"Title": "HP Rendah: III",
"Context": "Ugh ... aku terluka cukup parah ...."
},
{
"Title": "HP Rekan Rendah: I",
"Context": "Jangan memaksakan diri!"
},
{
"Title": "HP Rekan Rendah: II",
"Context": "Kamu bakal terluka ...."
},
{
"Title": "Gugur: I",
"Context": "Ugh! Penjaga Hutan ... untuk selamanya."
},
{
"Title": "Gugur: II",
"Context": "Ugh! Tidak ... tidak begini ...."
},
{
"Title": "Gugur: III",
"Context": "Aku tahu ... hari ini pasti akan tiba ...."
},
{
"Title": "Menerima Serangan Hebat: I",
"Context": "Bagaimana mungkin ...."
},
{
"Title": "Menerima Serangan Hebat: II",
"Context": "JANGAN SENTUH AKU!"
},
{
"Title": "Bergabung ke Party: I",
"Context": "Aku akan menjamin keselamatanmu."
},
{
"Title": "Bergabung ke Party: II",
"Context": "Semua sudah siap, ayo!"
},
{
"Title": "Bergabung ke Party: III",
"Context": "Penjaga Hutan Pemula, Collei, melapor!"
}
],
"FetterStories": [
{
"Title": "Info Karakter",
"Context": "\"Suka membantu\", \"ceria dan riang\", \"ramah dan antusias\" ... Tanya saja orang di Desa Gandharva, dan kamu akan mendengar pujian bertubi-tubi untuk Penjaga Hutan Pemula yang satu ini.\nSelama badannya masih kuat, tidak peduli sesibuk apa pun sekolahnya, Collei akan selalu rajin mengerjakan tugas Penjaga Hutan, dan dia juga tidak akan segan-segan mengulurkan tangan untuk siap saja yang memerlukan, tanpa pandang bulu.\nNamun Collei yang antusias dan positif ini, sepertinya juga punya masa lalu dan beban yang tidak ingin dia bagi ke sembarang orang.\nKalau kamu melihat ada lubang pohon di hutan tempat Collei biasa patroli, dan di dalamnya penuh catatan-aneh, atau misal kamu mendengar suara bisik-bisik ....\nIntinya, apa pun itu, harap abaikan dan segera balik badan. Angggap saja semua itu ulah Aranara yang nakal.\nKarena beberapa hal memang khusus untuk konsumsi lubang di pohon belaka ... setidaknya untuk saat ini."
},
{
"Title": "Kisah Karakter 1",
"Context": "Kalau memang tulisan adalah media pembawa kebijaksanaan, maka tidak diragukan lagi, literasi adalah titik awal pembelajaran.\nSaat awal-awal dia di Desa Gandharva, bahkan Tighnari yang terkenal ceplas-ceplos saja bisa menunjukkan raut kebingungan, dan terus menanyakan kepada Mahamatra Agung itu apa dia salah masuk pintu, karena dia tidak punya rencana untuk mulai kelas prasekolah di tahap sekarang.\nSetelah berbagai hambatan, Collei baru menuntut ilmu di bawah bimbingan guru. Untuk meningkatkan literasi Collei, Tighnari mencari berbagai koleksi buku dan literatur, berharap Collei bisa menguasai kosakata yang baru dengan cara membaca dalam jumlah banyak.\nKecuali \"Literasi Dasar Teyvat\" yang dipakai anak-anak dan skripsi akademis yang tidak akan bisa dimengerti meski dibaca oleh orang dewasa sekali pun, buku yang paling sering dibaca Collei adalah buku dongeng bergambar dari Mondstadt.\nAlasannya tidak lain adalah tulisan di buku dongeng sedikit, dan gambarnya banyak, sehingga pembaca yang tidak mengenal tulisan pun bisa menebak sebagian besar artinya dari hanya melihat gambar saja.\nTapi, kalau hanya membaca buku dongeng, maka dia pasti tidak akan bisa mengikuti perkembangan pelajaran. Oleh karena itu, literasinya harus meningkat. Collei pun mulai mencari bahan bacaan ekstrakurikuler yang baru.\nDengar-dengar dari para pengembara yang kadang-kadang melewati Hutan Avidya, Inazuma ada sejenis buku yang dinamakan \"novel ringan\", isinya lebih mudah dipahami dari skripsi, dan gambarnya relatif lebih sedikit dari buku dongeng. Ini adalah pilihan bacaan yang cocok sebagai transisi.\nYang paling penting adalah, konon katanya alur cerita \"novel ringan\" ini biasanya bisa membuat orang ketagihan. Banyak sekali pembaca, yang begitu mulai membaca buku ini, akan langsung melahap seluruh bukunya tanpa peduli siang dan malam.\nBagi Collei yang setiap malam baru bisa mulai belajar setelah susah payah mengumpulkan semangatnya, ini sangat pantas dicoba.\nPada suatu hari, setelah selesai patroli hutan, Collei mengambil satu jilid \"Onibudou\" yang baru sambil pulang ke asramanya dengan kegirangan, lalu membacanya sambil memegangi lampu semalaman penuh ... Dia tidak tidur malam itu!\n\"Kekuatan segel!\", \"Pembalas dendam kesepian!\", \"Sebaiknya menjauhlah dariku!\", \"Aku tidak ditakdirkan menerima anugerah dari para dewa!\" ....\nCollei akhirnya membenamkan kepalanya di bawah selimut dan bolak-balik semalaman, tapi masih tetap belum bisa memahami arti dari kalimat-kalimat ini."
},
{
"Title": "Kisah Karakter 2",
"Context": "Di Teyvat ada sebuah pepatah, asal pepatah ini sudah tidak bisa lagi ditelusuri, dan pepatah ini kebanyakan dipakai untuk mendeskripsikan suasana saat sedang malu:\n\"Rasanya ingin menyumput di dalam lubang pohon.\"\nCollei sambil mondar-mandir di hutan, sambil mengulang-ulang kalimat yang baru saja dipelajarinya tadi.\nSebelum kembali ke Sumeru, dia pernah berjanji kepada seorang teman dan bersumpah untuk mempelajari kemampuan medis dengan serius agar bisa menolong lebih banyak orang yang sama dengannya, orang-orang yang tenggelam dalam penderitaan dan putus asa.\nTapi memberikan janji hanya perlu antusias sesaat saja, namun untuk mewujudkannya, perlu melewati kerja keras dan pembelajaran selama bertahun-tahun. Dalam ujian yang baru saja selesai, Collei sekali lagi menabrak pembatas antara kenyataan dan janjinya.\n\"Masalah seperti ini ya ... benar-benar tidak boleh diceritakan kepada Amber ya.\"\nLagi pula, kalau ingin menulis surat kepada teman lama, masih harus meminta tolong guru untuk membantu menuliskannya. Masalah seperti hasil ujian yang tidak memuaskan dan ingin mencari orang untuk mencurahkan isi hatinya, bagaimana mungkin berani dia ungkit di depan gurunya?\nEntah kebetulan atau bagaimana, pada saat ini muncul sebuah lubang pohon seukuran manusia di jalur patroli hutan, seolah-olah dewa baru saja mendengar celotehan Collei.\n\"Tidak, tidak, meski buku dongeng juga pernah menuliskan tentang mencurahkan isi hati kepada Aranara, tapi aku sudah bukan bocah lagi ... Duh, tapi ... tidak ada orang juga sih di sekitar ....\"\nSaat dia sadar, Collei sudah berjongkok dan memegang kepalanya di dalam lubang pohon.\nKegelapan sama seperti benteng yang kokoh, yang mengisolasi semua jenis tekanan kenyataan.\nSifat Collei tertutup dan sulit untuk menjadi periang. Meski dia ingin berusaha untuk menjadi orang yang periang seperti Amber, tapi dia benar-benar tidak bisa menghiraukan kesulitan dan kesepiannya.\nCollei yang galau bercerita banyak sekali kepada lubang pohon, sama seperti hujan dan badai, dia meluapkan segala jenis tekanan yang tertumpuk setelah dia kembali ke Sumeru.\n\"Collei, Collei, patroli ke mana lagi dia?\"\nBeberapa hari kemudian, Tighnari melihat rute patroli hutan yang sering dilalui Collei dalam beberapa hari terakhir, kemudian melihat hasil ujiannya yang meningkat pesat, lalu dia pun mulai berkontemplasi.\n\"Jadi dia berhasil menemukan suatu cara untuk meningkatkan nilainya di dalam hutan? Bagus juga. Kalau begitu, biarkan Penjaga Hutan yang lain mengambil rute lainnya saja dulu. Berikan ketenangan untuknya sementara ini.\""
},
{
"Title": "Kisah Karakter 3",
"Context": "Kalau tes tertulis bisa diabaikan, nilai Collei pasti sudah sangat lumayan, terutama dalam aspek \"Bertahan Hidup di Hutan Belantara\".\nHutan Sumeru dipenuhi dengan berbagai macam bahaya seperti binatang buas dan berbagai kondisi darurat yang tiba-tiba muncul dan tak terprediksi. Jika ingin mengemban tanggung jawab sebagai Penjaga Hutan yang baik, maka harus mempersiapkan diri dengan baik.\nDalam bidang ini, Collei memiliki pengalamannya sendiri. Dia agak telat saat memulai mengenal pengetahuan melalui buku, makanya prestasinya secara tertulis mungkin lebih buruk dari orang-orang sebayanya. Tapi kemampuan prakteknya sangat kuat dan ide-idenya sangat brilian.\nMengikat tanaman rambat berduri di sekitar sepatu bot untuk meningkatkan kekuatan cengkeraman tanah, menggunakan jus jamur beracun untuk membuat jebakan hewan ....\nSemua ide-ide ini memastikan bahwa dia akan bisa pergi dan kembali dari hutan dengan aman, dan berhasil mengeluarkan mereka-mereka yang tersesat di dalam hutan, atau yang salah makan makanan beracun, atau mungkin si sial yang ditabrak oleh hewan buas, dengan selamat.\nSetiap pejalan kaki yang berhasil diselamatkan oleh Collei pasti akan kagum dengan kemampuan bertahan hidupnya yang ajaib. Selain itu, orang-orang juga sangat tergugah dengan kebaikan dan antusiasnya.\nBaik di dalam situasi bahaya, atau kekurangan makanan, meski orang yang berhasil diselamatkan tidak bisa mengendalikan emosinya dan bersikap histeris, Collei tetap akan bisa memaklumi semuanya seperti kehangatan sinar matahari.\nDia tidak pernah peduli kalau dirinya sudah terluka parah, atau lapar, dia hanya ingin membantu orang lain.\nSatu-satunya hal yang sulit diterima orang lain kurang lebih adalah, resep yang digunakan Collei untuk mengisi perut di saat darurat: asal bisa digunakan untuk menambah stamina, jangankan biji Zaytun Peach yang dihancurkan, bahkan kunang-kunang pun terpaksa dijadikan sebagai pilihan makanan setelah bagian kepalanya dibuang.\nSaat orang-orang bertemu dengannya, mereka pasti akan merasa penasaran dengan masa lalu sang Penjaga Hutan Pemula ini.\nSebenarnya masa lalu seperti apa, yang bisa membuat gadis muda yang masih belia ini, menganggap hutan belantara sebagai tanah airnya yang tercinta?"
},
{
"Title": "Kisah Karakter 4",
"Context": "Sebelum kembali ke Sumeru, Collei berkelana cukup lama.\nBerkelana berbeda dengan berlibur. Perbedaannya yaitu pada kamu hanya tahu titik awalnya, sementara titik akhirnya tidak pernah kamu ketahui.\nDia mulai berkelana dari reruntuhan yang terbakar habis oleh api ganas, atau mungkin lebih awal lagi, saat dia terjangkit penyakit ganas, dan, sudah ditakdirkan untuk menjadi mimpi buruk yang menyebar ke dalam kegelapan.\nTeman-teman yang berhasil kabur bersamanya dari reruntuhan, ada yang hilang di dalam badai pasir berkepanjangan, ada juga yang jatuh ke dalam kikisan dan siksaan sisa-sisa dewa jahat.\nDengan tubuh yang menanggung penyakit berat dan kutukan, akhirnya mereka tidak punya tempat untuk tinggal. Satu-satunya tempat yang bisa menampung mereka adalah hutan dan dataran yang tidak berpenghuni.\nAlam penuh dengan kebaikan, tapi juga penuh kekejaman. Alam tidak akan menolak pemberian hanya karena mereka sakit, juga tidak akan pernah mengizinkan pemberian dari alam sendiri meskipun mereka meminta pertolongan.\nSemakin banyak teman-temannya yang tidak bisa bertahan. Pelajaran yang mereka tinggalkan mengajari kepada orang-orang selanjutnya bagaimana cara berjuang untuk bertahan hidup di dalam kondisi bahaya.\nSedangkan saat teman yang terakhir tidak bisa bertahan lagi, yang Collei pelajari adalah: Jangan pernah mengulurkan tangan kepada siapa pun lagi.\nPada saat itu, punggung mereka bersandar pada tebing, mereka sudah kehabisan tenaga karena berlari, dari belakang mereka, terdengar auman hewan buas yang sedang mengejar mereka.\nEntah karena jalurnya yang terlalu sempit, atau karena alasan yang lain, Collei ditabrak oleh satu-satunya temannya, dan kemudian terjatuh di celah gunung.\nUntung saja, di dalam kepanikan itu, Collei masih sempat meraih dahan kecil di sebelah tebing, sambil mengulurkan tangannya yang satu lagi, dia berteriak dengan suara yang keras untuk meminta tolong.\nTapi temannya hanya menatapnya dengan tatapan mata yang tidak bisa dimengerti, lalu dia memilih untuk kabur sendiri tanpa berpikir dua kali.\nBelum orang itu sempat jauh berlari, raungan hewan itu sudah tiba lebih cepat dari langkah kaki orang yang melarikan diri, sama seperti suara siulan yang lewat. Naluri predatornya membuat hewan buas itu tidak memiliki waktu untuk memerhatikan Collei yang bergemetaran di bawah tebing.\nCollei pelan-pelan menarik tangannya, dan menggenggam dengan erat dahan pohon yang sangat mungkin bisa patah kapan pun, hingga semua suara yang ada di atasnya sudah reda.\nAuman hewan buas dan jeritan sahabatnya sudah menghilang.\nDia tidak bisa membenci temannya yang melarikan diri tersebut. Kalau dia berada di posisi temannya, dia juga tidak berani menjamin kalau dirinya tidak akan mengambil pilihan yang berbeda.\nPada saat ini, hanya ada satu pemikiran yang menetap di benak Collei.\nMemberikan bantuan atau meminta bantuan——\n\"Aku tidak akan pernah mengulurkan tanganku lagi kepada siapa pun.\""
},
{
"Title": "Kisah Karakter 5",
"Context": "Kali selanjutnya Collei menyentuh tangan orang lain, adalah waktu Ludi Harpastum di Mondstadt pada suatu tahun.\nPemandangan kota dihiasi dengan berbagai lampu warna-warna, jalan-jalan dihiasi dengan suara keramaian orang banyak. Saat senja sudah tiba, suasana panggung pun mulai meriah.\nGadis muda dengan baju berwarna merah seperti api itu menggumam sambil menarik tangannya, mereka keluar dari kotak kayu yang sempit itu dan masuk di antara kerumunan orang-orang.\nOrang-orang berkumpul dan bersorak-sorai untuk kompetisi permainan yang sederhana dan kekanak-kanakan, seperti gelang-gelangan kecil dan panah-panahan.\nCollei sama sekali tidak mengerti. Semenarik apa pun permainan ini, memangnya bisa dipakai untuk berburu makanan sebanyak apa di luar kota?\nTapi gadis muda yang bersamanya itu malah terbawa ke dalam suasana meriah saat itu, bersorak untuk setiap kemenangannya, dan membagikan hadiah yang diperolehnya kepada para anak-anak.\nCollei tidak mengerti. Kalau bukan demi hadiah, lalu kenapa dia masih mau mengikuti kegiatan seperti ini? Apa mungkin benar-benar ada kesenangan yang bisa diperoleh dengan melakukan hal itu?\nDia diam-diam bergeser ke sudut ruangan, mengambil busur dan mencoba kemampuan memanahnya. Akhirnya, dari belasan tembakan, ada satu yang berhasil mengenai sasaran.\n\"Kena!\" Collei berteriak kegirangan. \"Hei, lihat, lihat ....\"\nSaat itu, dia baru menyadari kalau dia sudah tenggelam dalam dirinya sendiri untuk waktu yang sangat lama, gadis muda berbaju merah itu sudah pergi entah ke mana sejak awal.\nPada hari-hari berikutnya, Collei semakin giat belajar, dan pelan-pelan menjadi terbiasa dengan suara tarikan busur dan anak panah. Dia berlatih untuk waktu yang lama sekali, sehingga dari belasan tembakan, jarang sekali ditemui satu anak panah pun yang tidak mengenai sasaran.\nSetiap kali menarik busur, Collei selalu mengingat antusiasmenya saat mengenai sasaran pertama kalinya pada malam itu.\nDan gadis berbaju merah yang menariknya dan mengajaknya masuk ke kerumunan orang-orang, telapak tangannya ... hangat bagaikan sinar matahari yang terik."
},
{
"Title": "Cuilein-Anbar",
"Context": "Bertumbuh berarti menang melawan diri sendiri yang belum dewasa.\nCollei pernah membantu anak-anak di Desa Gandharva menjahit mainan, rekan-rekan dari tim Pelindung Hutan juga kadang-kadang memintanya untuk membantu membereskan pakaian yang robek oleh cabang-cabang pohon.\nMeski demikian, Collei juga bukan ahli dalam pekerjaan tangan sejak lahir. Malah, pertama kali dia menjahit sesuatu, kondisinya parah sampai tidak tertolong.\nPada waktu itu, Collei akan segera meninggalkan Mondstadt, sebelum pergi, dia khusus menyerahkan pakaian yang sudah ditambalnya kepada Lisa, dan berharap semoga Lisa bisa membantunya untuk menyerahkannya kepada pemilik pakaian ini, Amber.\nMemang sih sudah dijahit, tapi jahitannya yang miring dan tidak rata seperti cacing tanah memenuhi seluruh pakaiannya. Kalau dipakai keluar, yang ada mungkin cuma rasa malu yang menanti pemakainya.\nDia tidak tahu apa Lisa akan menertawakannya atau memarahinya.\nTapi di luar dugaan, Lisa cuma menggenggam tangan Collei yang disembunyikannya di balik badannya, dan membalut perban di telapak tangannya.\nDia sama sekali tidak terkejut dengan luka tusuk jarum dengan kedalaman yang berbeda-beda di ujung jari Collei. Dia cuma berkata, \"Anggap saja sedang bermain Wolfhook yang dijadikan bola karet satu malam ya.\"\n\"Ke depannya saat kamu belajar di Sumeru, jangan terlalu terburu-buru seperti ini ya, Nak Collei.\" Lisa tertawa. \"Semua hal ada pertama kalinya kok. Belajar beradaptasi dengan kesulitan waktu mau memulai untuk kali yang pertama, itu baru pertumbuhan yang sebenarnya.\"\nCollei pun menjadi tersipu malu. Dia masih belum belajar sepenuhnya bagaimana cara untuk menerima kebaikan dari orang lain.\nTapi dia juga masih anak kecil, anak kecil kan pasti tumbuh dewasa.\nAnak kecil yang sudah putus asa terhadap dunia kembali lagi memungut harapannya satu demi satu, anak yang tidak pintar memanah mulai belajar membidik dengan tepat.\nAnak kecil yang seluruh lukanya dibalut dengan perban, juga akan perlahan-lahan berkembang menjadi panutan yang lincah di mata orang-orang.\nDi Desa Gandharva, anak-anak bergumam dan mengelilingi Collei, mata mereka dipenuhi tatapan kekaguman.\n\"Tangannya lincah sekali, kucingnya cakep!\" \"Kak Collei, dia sudah dikasih nama belum?\"\nCollei mengangkat tinggi-tinggi mainan kucing yang penuh jahitan yang dijahitnya sendiri, terbersit sedikit kebanggan dari raut wajahnya.\n\"Namanya ... Cuilein-Anbar!\""
},
{
"Title": "Vision",
"Context": "Hujan deras dan tanah longsor yang jatuh menghalangi jalan kembali Collei.\nCollei menyalakan api unggun di bawah tebing dan mencoba menghangatkan anak gadis yang sedang gemetaran di sampingnya.\nJarak dari lembah sungai ini sampai ke hutan tempat dia biasa berpatroli masih perlu satu hari perjalanan lagi. Kalau sendirian, sangat mungkin untuk kembali di tengah hujan seperti ini.\nTapi kalau harus membawa satu anak yang sudah lama tersesat di hutan dan menderita kelaparan dan kedinginan ekstrem, sepertinya ini sudah di luar kemampuan Collei.\nRaut wajah anak gadis itu sangat pucat, dahinya panas, dan dia terus bergumam dan memanggil mama.\nCollei masih ingat ibu dari anak itu, saat dia mencari bantuan di Desa Gandharva dengan cemas dan putus asa ... tatapan mata yang pernah dirasakannya itu, seakan-seakan berharap semua ini bisa menimpa dirinya sendiri saja, dan tidak terjadi kepada anak perempuannya.\nMereka melalui lembah sungai mengikuti karavan. Pada saat sedang istirahat, anaknya berlari dan bermain di luar sampai memasuki hutan. Setelah karavan mengetahui anak ini hilang, mereka langsung mengerahkan semua tenaga untuk mencarinya. Tapi semua kerja keras ini tidak membuahkan hasil.\nDalam keputusasaan, sang ibu terpaksa kembali ke Desa Gandharva untuk meminta pertolongan.\nBaru-baru ini, Tighnari membawa para Penjaga Hutan senior untuk berunding masalah di dalam kota. Melihat situasi yang darurat ini, Collei sudah tidak bisa menanti kepulangan Gurunya. Di bawah guyuran hujan yang sangat deras, para anjing penyelamat dan kelompok Penjaga Hutan sudah tidak bisa diandalkan lagi. Dia lantas segera mengambil ransel, busur, dan anak panahnya, lalu pergi sendiri ke dalam hutan.\nDi saat yang sama, raungan hewan buas yang tersembunyi dalam suara guntur dan hujan yang lebat sudah mulai mendekat perlahan-lahan.\nCollei tidak bisa menahan diri untuk mengingat peristiwa masa lalunya. Ingatan yang tidak pernah ingin dikenangnya, justru memilih saat sekarang untuk kembali muncul di dalam pikirannya.\nSetelah hujan berlalu dan langit menjadi cerah, Tighnari yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke tempat.\nAda jejak pertempuran dalam jalur perjalanan di bawah tebing. Tidak jauh dari tempat itu, terlihat beberapa ekor hewan buas yang sedang terkapar di atas tanah, Collei dan anak gadis itu saling menyandarkan bahu mereka dan tertidur dengan pulas.\nJantung Tighnari berdegup kencang. Dia tahu dengan jelas, Collei yang dulu jelas tidak memiliki keahlian seperti ini——kecuali dia telah memakai kekuatan yang tidak seharusnya digunakan olehnya.\nIni sama saja minum racun untuk menghilangkan rasa haus, ini jelas akan memperburuk kondisi Collei sendiri. Dia harus menghubungi Mahamatra Agung secepatnya ....\nJejak kaki Tighnari mengejutkan Collei dan membuatnya terbangun. Dia cepat-cepat memberikan tanda gerakan kepada Gurunya itu untuk mengecilkan suaranya, supaya tidak mengganggu anak gadis yang sedang tertidur nyenyak di sampingnya.\nTighnari melihat kondisi gadis itu dengan cemas: \"Collei, kamu ....\"\nCollei menggeleng-gelengkan kepalanya, mengangkat tangannya, dan membuka genggaman tangannya yang sudah dikepalnya semalaman.\n\"Guru, aku sudah jadi kuat loh! Aku tidak akan buat kerja keras semua orang jadi sia-sia. Mulai hari ini, aku yang akan menjaga semua orang.\"\nSebuah Vision memancarkan cahaya dengan tenang di telapak tangannya."
}
]
},
"Costumes": [
{
"Id": 206700,
"Name": "A New Leaf",
"Description": "Model pakaian Collei. Tidak perlu lagi meringkuk di balik mantel tebal lamanya, Collei seperti daun baru yang mengulurkan tangan untuk menyambut fajar.",
"IsDefault": true
}
],
"CultivationItems": [
104134,
113036,
101213,
112013,
104337,
113033
],
"NameCard": {
"Name": "Collei: Good Virtue",
"Description": "Style Kartu Nama.\n\"Cu ... Cuilein-Anbar! Uh ....\"",
"Icon": "UI_NameCardIcon_Collei",
"PicturePrefix": "UI_NameCardPic_Collei"
}
}